input license here

Nasehat Untuk Para Penghafal Al-Quran

Para Penghafal Al-Quran, Jagalah Akhlamu

Wahai saudaraku, agama Islam adalah agama adab dan kemuliaan, agama akhlak dan keutamaan. Siapa yang dicintai Allah maka agamanya menjadi mulia, adabnya akan menjadi luhur. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita sebagai seorang muslim hendaknya selalu menghiasi diri kita dengan akhlak dan adab yang mulia, terlebih pada seorang yang diberi kenikmatan dan taufik menjadi seorang penghafal Al-Qur’an hendaknya lebih mampu menjaga akhlak dan adabnya sebagaimana perkataan Muhammad bin Al-Husain: “Seyogyanya orang yang telah mendapatkan pengajaran Al-Qur’an dari Allah dan dikaruniai keistimewaan dibandingkan orang yang tidak menghafal dan memahami kitabNya, kemudian dia berkeinginan untuk menjadi Ahlul Qur’an, keluarga Allah, hamba pilihanNya dan ingin masuk ke dalam golongan yang mendapatkan janji Allah untuk meraih keutamaan agung dari menghafal Al-Qur’an, hendaknya dia menjadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatinya, lalu dengannya dia membangun apa-apa yang telah rusak dari hatinya, kemudian dia beradab dengan adab-adab Al-Qur’an dan berakhlak yang mulia sehingga dengannya dia akan nampak jauh berbeda perilakunya dari orang tidak membaca Al-Qur’an”

Mengingat betapa banyaknya kemuliaan dan keutamaan bagi orang yang menghafal Al-Qur’an. Hendaknya orang yang menghafal Al-Qur’an tidak menjadikan hafalan Al-Qur’an hanya sekedar hafalan tanpa berusaha memahami, merenungi, dan mengamalkan isinya atau bahkan hanya menjadikannya sebagai ajang berbangga-bangga belaka. Wal’iyadzubillah. Berikut ini adalah nasihat-nasihat tentang adab yang patut diteladani oleh orang-orang yang menghafalkan kitab Allah subhanahu wa ta’ala,

Pertama, berniat mengharap ridha Allah semata

Pertama kali yang seharusnya dilakukan oleh setiap muslim yang hendak beribadah kepada Allah adalah mengikhlaskan niatnya untuk mencari ridha Allah Ta’ala semata termasuk dalam menghafalkan Al-Qur’an dan mengajarkannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Diriwiyatkan dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam Shahihain bahwa beliau bersabda:

إنَّما الأعْمالُ بالنِّيَّةِ، وإنَّما لِامْرِئٍ ما نَوَى

“Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niat dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata:

إِنَّمَا يَحْفَظُ الرَّجُلُ عَلَى قَدْرِ نِيَّتِهِ

“Seseorang itu akan menghafal sesuai dengan kadar niatnya”

Kedua, tidak mengharap hasil duniawi

Hendaknya ia dalam menghafal Al-Qur’an tidak meniatkan untuk memperoleh kenikmatan dunia yang bersifat sementara, baik berupa harta, jabatan, kedudukan yang tinggi, sanjungan manusia, atau semacamnya.

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagiapun di akhirat,” (QS. Asy-Syura: 20).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

من طلب عِلمًا ممَّا يبتغي به وجهَ اللهِ تعالَى ليُصيبَ به عرَضًا من الدُّنيا لم يجِدْ عرْفَ الجنَّةِ

“Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya diniatkan mengharap melihat wajah Allah Ta’ala, akan tetapi ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan salah satu kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium semerbak wangi surga pada Hari Kiamat.” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih)

Ketiga, menghiasi diri dengan akhlak terpuji

Seorang penghafal Al-Qur’an seyogyanya menghiasi diri dengan kebaikan-kebaikan yang dituntunkan oleh syariat dan senantiasa berusaha mengamalkan ayat-ayat yang telah dihafalnya sehingga menjadikan Al-Qur’an, As-Sunnah dan hukum islam sebagai petunjuknya pada setiap akhlak yang baik dan terpuji.

Beberapa contoh akhlak terpuji tersebut adalah:


  1. Senantiasa bertakwa kepada Allah saat sendirian ataupun di tengah keramaian, dengan bersikap zuhud dan wara’ dalam hal makanan, minuman, pakaian, penghasilan.
  2. Membiasakan diri untuk senantiasa berbakti pada kedua orangtuanya. Mendermakan hartanya untuk kedua orangtuanya, bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada keduanya.
  3. Menjaga lisan dan berhati-hati dalam tutur katanya. Apabila berbicara dilandasi dengan ilmu pun ketika diam dilandasi dengan ilmu dan sedikit bicara dalam hal yang tidak bermanfaat.
  4. Sedikit tertawa dan bercanda dari apa yang ditertawakan oleh manusia, disebabkan buruknya banyak tertawa dan bercanda dan takut jatuh dalam kesia-siaan.
  5. Tawadhu’, tidak membicarakan aib, merendahkan, dan mencaci seorang pun, tidak berbuat zhalim, tidak iri dengki dan berburuk sangka pada siapa pun kecuali pada orang yang pantas menerimanya.
  6. Tidak melakukan perbuatan jahil kepada seorang pun, apabila dijahili maka dia bersabar dan bermurah hati dan senantiasa memaafkan ketika dizhalimi.
  7. Senantiasa menyambung silaturrahim dan membenci pemutusan tali silaturrahim.
  8. Dia bersahabat dengan orang-orang mukmin dengan landasan ilmu. Orang yang bersahabat dengannya akan mendapatkan manfaat darinya.
  9. Bersikap sopan terhadap gurunya dan senantiasa memperhatikan adab-adab dalam bermajelis
  10. Jika dia mengajar dia bersikap lemah lembut, rendah hati, tidak bersikap keras, memperlakukan murid dengan baik, mendidik muridnya dengan adab mulia, bersemangat ketika mengajar. Orang yang bermajelis dengannya akan merasa senang dan selalu mendatangkan kebaikan.

Keempat, tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai mata pencaharian

Termasuk hal yang paling penting yang diperintahkan adalah hendaknya ia sangat berhati-hati tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana mencari nafkah. Diriwayatkan Abdurrahman bin Syibl –radhiyallahu ‘anhu– ia berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

اقرؤوا القرآنَ، واعملوا به، ولا تَجفُوا عنه، ولا تغْلُوا فيه، ولا تأكلوا به، ولا تستكثِروا به

”Bacalah Al-Qur’an, amalkanlah ia, jangan jangan melalaikannya, dan jangan pula berlebih-lebihan terhadapnya, jangan makan hasil darinya, jangan memperbanyak harta darinya” .
Diriwayatkan dari Jabir –radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

اقرءوا قبل أن يجيء أقوام يقيمونه كما يقام القدح لا يجاوز تراقيهم ، يتعجلون أجره ولا يتأجلونه

“Bacalah Al-Qur’an sebelum datang kaum yang menegakkannya seperti tegaknya anak panah, tidak melewati kerongkongan mereka, mereka menyegerakan upahnya dan tidak menundanya”
Maksudnya kaum yang tercela tersebut menyegerakan upah dari membaca Al Qur’an adalah dalam bentuk harta, popularitas, dan semisalnya.

Mengenai upah dari pengajaran Al-Qur’an ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama melarangnya, diantaranya: Az-Zuhri dan Abu Hanifah. Sebagian lagi membolehkannya jika tidak menjadi syarat, sebagaimana pendapat Hasan Al-Bashri, Asy-Sya’bi, dan Ibnu Sirin. Namun yang jelas, wajib para penghafal dan pengajar al Qur’an untuk mengikhlaskan niatnya dalam menghafal untuk mengharap wajah Allah.

Kelima, membiasakan diri memperbanyak membaca Al-Qur’an

Hendaknya membiasakan diri untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Para salaf mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda dalam mengkhatamkan Al-Qur’an. Ibnu Abi Daud meriwayatkan dari beberapa salaf bahwasanya mereka dahulu mengkhatamkan Al-Qur’an setiap dua bulan sekali, yang lainnya sebulan sekali, ada yang sepuluh hari sekali, delapan hari sekali, mayoritas tujuh hari sekali. Adapula yang mengkhatamkan setiap enam hari sekali, lima hari sekali, empat hari sekali, tiga hari sekali, tetapi ada juga yang mengkhatamkan dua hari sekali. Intinya berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya, ada yang jernih pikirannya hingga dalam waktu singkat dapat memahami apa yang dibacanya, ada juga yang sibuk menyampaikan ilmu atau lainnya yang ada kaitannya dengan kepentingan agama dan kemashlahatan kaum muslimin secara umum maka sebisa mungkin ia mengkhatamkan Al-Qur’an tanpa melalaikan tugasnya. Tetapi jika tidak memungkinkan untuk mengkhatamkan hendaklah ia membaca semampunya tanpa melalaikannya ataupun membaca dengan terburu-buru.
Mayoritas salaf memakruhkan khataman dalam waktu satu hari satu malam. Dalam hal ini terdapat hadist shahih dari Abdullah bin Amr bin Ash –radhiyallahu ‘anhumaa– ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

لَا يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ

“Orang yang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari tidak akan paham apa yang dibacanya”

Keenam, membiasakan qiraah malam

Hendaknya ia membedakan malam harinya dengan malam hari orang-orang pada umumnya. Hendaknya ia sangat memperhatikan qiraah pada malam hari, terlebih dalam shalat malam. Allah Ta’ala berfirman:

مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ

“Di antara ahlu kitab ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (shalat).” (QS. Ali ‘Imran: 113).

Banyak hadist dan atsar mengenai hal ini. Dalam Shahihain terdapat riwayat dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bahwa beliau bersabda:

نِعْمَ الرَّجلُ عبدُ اللَّهِ لَو كانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ

“Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah, jika ia mengerjakan sholat malam”

Ibrahim An-Nakha’i berkata: “Dahulu dikatakan: Tetaplah membaca Al-Qur’an pada malam hari walau kambing sudah mengeluarkan susunya”.

Sesungguhnya nilai lebih shalat malam dan bacaan Al-Qur’an adalah karena ia menyatukan hati, menjauhkannya dari kesibukan-kesibukan lain, dari kelalaian dan memikirkan kebutuhan, lebih menjaga riya’ dan semacamnya yang menjadikan amalan sia-sia. Di samping adanya tuntunan syari’at karena banyaknya kebaikan pada malam hari.

Ketujuh, senantiasa melakukan muraja’ah hafalan Al-Qur’an untuk menghindari lupa

Hendaklah ia senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan senantiasa memuraja’ah hafalan Al-Qur’an sehingga ia tidak lupa. Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari –radhiyallahu anhu– ia berkata Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَعاهَدُوا هذا القُرْآنَ، فَوالذي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بيَدِهِ لَهو أشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الإبِلِ في عُقُلِها

“Ulang-ulanglah Al-Qur’an ini. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, ia lebih cepat lepas daripada unta dalam ikatan”.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma– bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

إنَّما مَثَلُ صاحِبِ القُرْآنِ، كَمَثَلِ صاحِبِ الإبِلِ المُعَقَّلَةِ، إنْ عاهَدَ عليها أمْسَكَها، وإنْ أطْلَقَها ذَهَبَتْ

“Sungguh permisalan orang yang hafal Al-Qur’an itu ibarat pemilik unta yang diikat, jika ia selalu menjaganya niscaya bisa mempertahankannya tetapi jika ia melepaskannya niscaya unta itu akan pergi”.
Wallahu a’lam.
Baca Juga
Fathesshop
"Kegagalan Adalah Hal Yang Biasa"
SHARE
Subscribe to get free updates

Posting Komentar