input license here

Hadits Dan Riwayat Palsu Di Pengajian

Hadits Dan Riwayat Palsu Di Pengajian

Al-QUR`AN DAN SUNNAH ADALAH SUMBER PERBAIKAN HATI

Kita, kaum muslimin, harusnya tidak menulis, atau tidak menyampaikan ceramah maupun khutbah, kecuali berisi ayat-ayat Al-Qur`an, hadits-hadits yang shahih dan kisah-kisah yang benar. Tidak perlu membawakan hadits-hadits yang dha’îf (lemah), maudhû’ dan kisah-kisah batil. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan:

فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ

…maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya [al-Jâtsiyah/45:6].

Maksudnya, barang siapa tidak mengimani Al-Qur`an dan Sunnah, tidak terobati hatinya dengan Al-Qur`an dan Sunnah, niscaya tidak akan pernah memperoleh penawar dengan apapun. Apakah seseorang bisa membenahi hatinya dengan kisah-kisah yang berderajat lemah dan palsu?

Memang, terkadang cerita-cerita palsu bisa mengguratkan pengaruh bagus kepada pendengarnya. Akan tetapi, hanya bersifat temporer (sementara) saja. Syaikh al-Albani rahimahullah pernah mendengarkan ceramah dari orang yang beliau kagumi gaya bicaranya. Ia seorang penceramah ulung. Ia membawakan hadits-hadits lemah dan palsu dengan cara yang sangat menarik. Ternyata, beliau tersentuh, sampai menangis saat menyimaknya, meski mengetahui kisah itu palsu. Demikianlah tabiat hati manusia, rentan terpana oleh cerita-cerita yang mengharukan.

Ini mengingatkan kepada yang diriwayatkan dari Imam Ahmad rahimahullah. Beliau pernah ditanya perihal al-Hârits al-Muhâsibi, seputar jati dirinya, hukum menimba ilmu dan mendatangi majlisnya. Imam Ahmad rahimahullah memilih untuk langsung mendatangi majlis al-Hârits bin al-Muhâsibi untuk mencari tahu.

Beliau tidak duduk di bagian depan al-Hârits, tetapi menyembunyikan diri di balik penutup. Dari situ, beliau mendengar ceramah. Murid-murid menjumpai Imam Ahmad rahimahullah. Tak disangka, kedapatan air matanya bercucuran. Meski demikian, beliau melarang murid-murid mengambil hadits darinya. Begitulah, ceramahnya hanya mempermainkan perasaan, mempengaruhi emosi saja. Bukan lantaran tersulut oleh pengaruh yang syar’i, yaitu melalui Al-Qur`an dan Sunnah.

Menilik fenomena ini, praktek membawakan kisah-kisah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan tidak hanya sampai di sini saja. Bahkan sekarang ini, salah seorang muballigh tidak hanya mengisahkan cerita-cerita palsu produk zaman dulu, tetapi juga membuatnya sendiri.

Saya pernah memperoleh cerita yang sempat populer pada waktu lampau dari seseorang. Dimana-mana, sang muballigh membawakan kisah taubat murni dari seorang lelaki bernama Ahmad yang sangat mengharukan, setelah bergelimang kesalahan demi kesalahan. Ternyata, sang pencerita itu mengakui, bahwa dialah kreator cerita yang dimaksud, untuk mengingatkan dan melembutkan hati manusia. Jadi, siapa saja yang belum merasa cukup dengan kandungan Al-Qur`an dan Sunnah, maka bacaan-bacaan lain tidak bisa mewakilinya.

Al-hamdulillah, kaidah-kaidah (Al-Qur`an dan Sunnah sebagai rujukan utama untuk menarik hati manusia, pent.) seperti ini, tidak banyak orang yang mengetahuinya. Kalaupun ada yang mengetahuinya, tidak terlalu menekankannya. Bahkan, di sebagian golongan terdapat unsur kesengajaan untuk menyembunyikan masalah ini. Berbeda dengan Ahli Sunnah, Ahlul-Hadits yang memegang manhaj Salaf. Urusan-urusan mereka sangat jelas, saling memberi nasihat dengan hal-hal yang berdasarkan pada kebenaran. Ini merupakan sebuah keutamaan yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Ahli Sunnah.

Kesimpulannya, kita tidak boleh menyebutkan, baik dalam mengajar, khutbah, berceramah, maupun tulisan, kecuali nash-nash yang jelas tsâbit dan hadits-hadits yang shahîh.

HAKIKAT MAU’IZHAH (NASIHAT CERAMAH)

Sebagian orang berasumsi bahwa mau’izhah (lebih dikenal oleh masyarakat kita dengan mau’izhah hasanah, pent.) hanya berbentuk menyajikan kisah-kisah semata, untaian kata yang mampu melembutkan dan mengharukan hati. Namun, sesuai dengan tekstual Al-Qur`an, mau’izhah (hasanah) adalah pembicaraan tentang tauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan tentang Luqman dalam firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi mau’izhah kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar zhalim yang besar”. [Luqman/31:13].

Ayat di atas menyebutkan bahwa ra`sul mau’izhah (inti mau’izhah) adalah pembicaraan tentang tauhid.  Dalam hadits al-‘Irbâdh bin Sâriyah Radhiyallahu anhu, ia menceritakan :

وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَوْصِنَا قَالَ :  أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan mau’izhah kepada kami, hati-hati menjadi takut, air mata bercucuran dari mata. Seakan-akan itu merupakan mau’izhah orang yang mau pergi meninggalkan (kami). “Wahai Rasulullah, sampaikan wasiat kepada kami,” maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun seorang budak hitam yang memimpin kalian. Sesungguhnya orang yang hidup (panjang) dari kalian akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka, kewajiban kalian adalah memegangi Sunnahku…”. [HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad].

Dengan memperhatikan hadits di atas, ternyata mau’izhah (hasanah) itu berupa pesan ketakwaan (tauhid), pembicaraan tentang manhaj dan perintah memegangi Sunnah yang terangkum dalam mau’izhah.

Jadi, penceramah sejati, ialah orang yang melembutkan hati manusia dengan dakwah kepada tauhid dan berpegang teguh dengan Sunnah. Membersihkan hati mereka dengan Al-Qur`ânul-Karîm, Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan biografi generasi Salafush Shâlih g dan mengajak hati mereka menuju cara pemahaman Islam yang benar (manhaj shahîh). Inilah mau’izhah yang sebenarnya. Bukan dengan cara membawakan kisah-kisah dan hikayat-hikayat yang lemah, maupun kata-kata yang dibuat-buat dan jauh dari cahaya al-Kitab dan Sunnah.

Masih banyak berkembang fenomena para da’i yang membawakan hadits-hadits dan riwayat-riwayat palsu untuk merebut hati manusia. Mungkin saja ada yang berkata “bukankan diperbolehkan bertumpu pada hadits dha’îf dalam urusan fadhâilul-a’mâl dan at-targhîb wat-tarhîb? Jawabannya, berdasarkan pendapat yang râjih, hukumnya tidak boleh. Bahkan ulama yang memperbolehkannya, telah menetapkan beberapa syarat yang sebenarnya mustahil untuk dipenuhi, dan dijadikan pedoman serta berkumpul dalam sebuah hadits dha’îf.

Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Tabyînil-‘Ajab fî mâ Warada fî Fadhli Rajab dan muridnya ash-Sakhâwi rahimahu dalam al-Qaulul Badî` fish-Shalâti was-Salâmi ‘Alasl Habîbi asy-Syafî‘ telah menggariskan empat syarat, yaitu: kelemahannya tidak parah, berada dalam konteks amalan yang syar’i, tidak boleh diyakini bersumber dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mengamalkan atau menggunakannya sebagai dalil (istidlâl), dan hendaklah diriwayatkan dengan bentuk tamrîdh (lafazh yang menunjukkan kelemahan riwayat), bukan dengan bentuk ketegasan mengenai kepastian kebenaran riwayat itu. Seperti, qîla, yuqâlu, yurwa, (dikatakan, diriwayatkan, dan lafazh-lafazh lain yang menunjukkan kelemahan derajatnya, pent.).

Imam Abu Syâmah al-Maqdisi rahimahullah dalam kitab al-Bâ’its fi Inkâril-Bida` wal-Hawâdits, bahkan menilai syarat terakhir belum sempurna, sehingga harus ditambah dengan keterangan “wajib diterangkan kelemahannya secara terang-terangan”. Sebab, tidak semua orang mengetahui istilah-istilah di atas. Empat syarat ini cukup sulit terpenuhi seorang pembicara, muballigh atau pengajar.

Para ulama telah memperingatkan umat dari para tukang dongeng (al-Qushshâsh). Mereka ini berada pada masa tertentu, dan akhirnya akan lenyap begitu saja; karena modal yang mereka miliki telah habis.

PERINGATAN ULAMA TERHADAP MUBALLIGH-MUBALLIGH YANG MENGUSUNG CERITA-CERITA PALSU

Keberadaan muballigh yang membawakan kisah-kisah dan hikayat-hikayat palsu telah diperingatkan oleh ulama dalam kitab-kitab mereka. Orang-orang yang ceramahnya berisi cerita-cerita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan ini tetap selalu ada di tengah masyarakat. Namun masa popularitas mereka tidak bertahan lama. Karena modal yang mereka miliki tidak banyak. Hanya mempunyai 10 atau 100 cerita. Oleh karena itu, kalau kita mau mendata nama-nama muballigh model ini untuk kurun waktu sepuluh tahun sebelumnya, ternyata sudah jauh dari hati masyarakat. Karena pengaruh mereka hanya sementara. (Ini) berbeda dengan ulama-ulama Rabbaniyyûn, pengaruh positif dari mereka tetap bertahan, mereka pun masih eksis dan nama mereka selalu dikenang di tengah masyarakat.

Sekilas, saya terkadang menyaksikan seorang muballigh yang sedang berdoa di televisi. Melalui caranya memanjatkan doa, seakan-akan ia sedang memainkan peran dalam sebuah sandiwara, memejamkam mata, mencucurkan air mata, hingga tidak nampak sedang berdakwah.

Sedangkan seorang alim hakiki, ketika ia berbicara, maka kandungannya adalah qâlallah dan qâla Rasulullah (ayat-ayat dan hadits-hadits Rasulullah yang shahîh), sebagaimana yang dilantunkan Imam Syâfi’i dalam salah satu bait syairnya:

الْعِلْمُ  مـَاكَانَ فيِـــهِ حَدَّثـــَنَا          وَمَا سِوَى ذَاكَ وَسْوَاسُ الشَّيَاطِيْنِ

Ilmu (yang benar) itu ilmu yang berisi periwayatan haddatsana
Dan (yang) selain itu, hanyalah hasil bisikan dari setan-setan.

Wallahu a’lam
Related Posts
Fathesshop
"Kegagalan Adalah Hal Yang Biasa"
SHARE
Subscribe to get free updates

Posting Komentar