input license here

Kisah Unta Pembawa Berkah

Kisah Unta Pembawa Berkah

Dr. Saleh as-Saleh menuturkan kisah nyata berikut ini dalam salah satu kelasnya di Understand Islam.Net:

Bismillahir Rahmanir Rahim. Kisah ini terjadi sekitar seratus tahun yang lalu dan juga disiarkan di stasiun radio. Ini mengenai seorang laki-laki yang dipanggil Ibnu Jad’an. Ia berkata selama musim semi ia selalu pergi keluar. Ia melihat unta-unta gemuk yang baik dan sehat dan ambingnya (tempat susu) penuh hingga terlihat hendak pecah. Kapanpun anak unta mendekati induknya, susu induknya mengalir karena berlimpahnya karunia, dan berlimpahnya kebaikan. Maka aku (Ibnu Jad’an) melihat kepada salah satu unta betinanya dengan anak-anaknya dan aku teringat tetanggaku yang miskin dan memiliki tujuh orang anak perempuan yang masih belia. Maka aku berkata kepada diriku, Demi Allah aku akan memberikan unta ini dan anaknya sebagai sedekah kepada tetanggaku – dan kemudian dia membaca ayat dimana Allah berfirman:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” (QS Al-Imran [3] : 92)

Dan yang paling kucintai diantara binatang ternakku adalah unta betina ini. Maka aku pun membawanya beserta anaknya dan mengetuk pintu rumah tetanggaku. Aku mengatakan kepadanya untuk menerimanya sebagai hadiah dariku. Aku melihat wajahnya berbinar penuh kebahagiaan dan ia tidak dapat mengatakan apapun sebagai jawabannya. Maka ia pun mengambil manfaat dari susunya dan menggunakannya untuk memuat kayu di atas punggungnya, menunggu anak-anak unta tumbuh besar agar dapat dijualnya. Setelahnya ia mendapatkan banyak kebaikan dari unta ini.

Setelah musim semi berlalu, musim panas datang dengan (udara) keringnya, maka para Badui mulai mencari air dan rumput. Kami mengumpulkan perbekalan kami dan pergi mencari air, dan duhul atau lubang-lubang yang terdapat di dalam bumi terdapat di bawah tanah menuju ke tempat air yang tertahan di bawah tanah. Mulut (lubang) terdapat di permukaan tanah, sebagaimana yang sangat dikenal oleh suku Badui.

Aku (Ibnu Jad’an) masuk ke dalam salah satu dari lubang-lubang tersebut untuk mendapatkan air untuk minum. Dr. Saleh melanjutkan: “dan ketiga orang anak Ibnu Jad’an menunggunya diatas lubang. Namun dia tidak kembali. Ketiga anaknya menunggunya sehari, dua hari, dan tiga hari dan akhirnya merasa putus asa. Mereka berkata mungkin ia telah digigit oleh ular dan mati atau ia hilang (terperosok) ke bawah bumi dan hancur.

Mereka, naudzubillah, menunggu kehancurannya. Mengapa? Karena mereka serakah untuk segera membagikan harta warisannya. Maka mereka pun kembali ke rumah dan membagi apa yang Ibnu Jad’an tinggalkan diantara mereka. Kemudian mereka teringat bahwa ayah mereka memberikan unta betina kepada tetangga mereka yang miskin. Mereka mendatangi tetangga tersebut dan mengatakan kepadanya agar lebih baik dia mengembalikan lagi unta betina tersebut dan mengambil unta lain sebagai gantinya, atau mereka akan mengambilnya secara paksa dan meninggalkannya tanpa sesuatu pun.

Tetangga tersebut mengatakan akan mengadukan kepada ayah mereka. Maka mereka pun memberitahukan kepadanya  bahwa ia (Ibnu Jad’an) telah wafat. Tetangga tersebut bertanya bagaimana dan dimana Ibnu Jad’an meninggal dan mengapa mereka tidak mengabarkan kepadanya. Mereka kemudian menjelaskan bagaimana Ibnu Jad’an masuk ke dalam lubang bawah tanah di gurun dan tidak pernah keluar lagi.

Tetangga itu berkata: “Demi Allah bawa aku ke tempat itu dan ambil unta betinamu dan lakukan apapun kalian inginkan dengannya. Aku tidak menginginkan untamu sebagai balasannya!”

Mereka pun mengatarnya dan ketika dia melihat tempat tersebut, dia pergi dan membawa sebuah tali, menyalakan lilin, mengikatnya di luar lubang, dan kemudian mulai merangkak turun dengan punggungnya hingga mencapai tempat dimana dia dapat merangkak danerguling. Akhirnya aroma kelembaban(tercium) semakin dekat dan tiba-tiba ia mendengar suara seorang laki-laki di dekat air mengerang dan merintih.

Ia mendekat dan terus mendekat ke arah suara tersebut dalam kegelapan, merabaraba dengan tangannya sampai menyentuh laki-laki tersebut. Ia mengecek nafasnya, dan Ibnu Jad’an masih bernafas setelah satu minggu (berada di bawah tanah)! Ia menarik Ibnu Jad’an keluar, menutup matanya untuk melindungi dari cahaya matahari. Ia memberinya makan dengan beberapa kurma, melembabkannya (terlebih dahulu) dengan air, dan memberinya minum.

Kemudian ia membawa Ibnu Jad’an kembali ke rumahnya dan perlahan-lahan Ibnu Jad’an pulih sedangkan anak-anaknya tidak mengetahuinya. Ia kemudian bertanya  kepada Ibnu Jad’an: “Ceritakan kepadaku, Demi Allah, selama satu minggu engkau berada di bawah tanah dan engkau tidak mati?!”

“Aku akan menceritakan sebuah kisah yang aneh.” Ibnu Jad’an menjelaskan. “Ketika aku turun aku tersesat dan gelombang menyergapku dari segala arah dan aku berkata kepada diriku lebih baik aku tetap tinggal di dekat air yang telah kujumpai. Dan aku pun mulai minum dari air itu, namun rasa lapar tanpa ampun dan air tidak dapat menggantikannya. Kemudian setelah tiga hari kelaparan semakin menjadi-jadi dan terasa di setiap bagian (tubuh). Saat aku tengah berbaring di atas punggungku, aku berserah diri kepada Allah dan meletakkan segala urusanku di tangan-Nya dan seketika aku merasakan hangatnya susu mengalir ke dalam mulutku. Lalu aku duduk di tengah kegelapan dan aku melihat sebuah kendi mendekat ke mulutku. Aku minum darinya sampai merasa cukup dan kendi itu pun menjauh. Hal ini terjadi tiga kali dalam sehari, namun dua hari terkahir ia berhenti dan aku tidak tahu apa yang terjadi.”

Tetangganya pun kemudian mengabarkan kepadanya: “Jika engkau mengetahui alasannya (mengapa kendi berisi susu itu tidak datang lagi –pent.), engkau akan merasa takjub! Anak-anakmu mengira engkau telah mati dan mereka datang kepadaku dan mengambil unta betina yang darinya Allah subhanahu wata’ala memberikan susunya untukmu.” Seorang Muslim berada di bawah naungan shadaqah-nya. Allah berfirman:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS Ath-Thalaq:65)
Baca Juga
Fathesshop
"Kegagalan Adalah Hal Yang Biasa"
SHARE
Subscribe to get free updates

Posting Komentar