input license here

Penjelajah Dunia 'Ibnu Batuta'

Penjelajah Dunia 'Ibnu Batuta'

Pengenalan kita terhadap penjelajah dunia mungkin tidak terlalu sempit, kita mengenal banyak nama seperti halnya Cheng Ho, Vasco de Gama, Amerigo Vespuci, sampai kepada Christoper Colombus yang dianggap sebagai penemu Dunia Baru atau Benua Amerika. Adalah suatu yang perlu diperbaharui karena penjelajah Arab telah mendaratkan perahu-perahu mereka di dunia baru lima abad sebelum kehadiran Christoper Columbus. Boleh dibilang para penjelajah Arablah yang menjadi pelopor utama yang mengantarkan umat manusia untuk mengenal satu sama lain.

Adalah Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Al-Lawati Al-Tanji atau biasa disebut Ibnu Batuta yang telah menjadi salah satu tokoh penjelajah muslim. Dia lahir di Tangies, Maroko, afrika Utara pada 24 Februari 1304 M. Ibnu Batuta giat mempelajari fiqih dari para ahli yang sebagian besar menduduki jabatan kadi (hakim) dan dia juga mempelajari sastra dan syair Arab. Pada masa hidupnya, Bani Marrin tengah berkuasa di Maroko dan mengalami kejayaan. Besama pasukan kerajaan yang beberapa kali memerangi Perancis dia mulai menguasai dunia pelayaran.

Dari catatan Sir Henry Yules yang dikutip oleh sejarahwan George Sarton mengungkapkan bahwa Ibnu Batuta telah mengelana sejauh 75.000 mil melalui jalan darat dan laut. Jarak ini lebih jauh dengan apa yang dilakukan Marco Polo dan pengelana manapun sebelum datangnya mesin uap. Ibnu Batuta baru berusia 20 tahun ketika Marco Polo meninggal, namanya disejajarkan dengan Marco Polo, Fernando de Magellan, Hsing Tsieng dan Drake oleh Brockellman.

Juru tulis sultan Maroko, abu Enan telah menulis seluruh perjalanan Ibnu Batuta, karynya diberi judul Tuhfah an-nurzzarfi Ghara’ib al-Amsar wa Ajaib al-Asfar (persembahan seorang pengamat tentang kota-kota asing dan perjalanan yang mengagumkan) dan telah mencuri perhatian berbagai kalangan Eropa sejak diterjemahkan ke berbagai Negara, seperti Perancis, Inggris dan Jerman.

Pada usia kurang dari 21 tahun Ibnu Batuta telah menunaikan ibadah haji dan itu menjadi kepergian pertamanya. Catatan sejarah Ibnu Batuta mengatakan bahwa kepergiannya tepat tanggal 14 juni 1325 M, dengan menyebrangi Tunisia dia tiba di Alexandria dan seluruh perjalanannya di tempuh dengan berjalan kaki. Di Mesir Ibnu Batuta mendapat bantuan dari sultan Mesir berupa uang untuk bekal menuju Tanah Suci. Dia melanjutkan perjalanannya ke Mekkah melalui Kairo dan Aidhab, dengan melewati pelabuhan penting Laut Merah dekat Aden. Ibnu Batuta kembali ke Kairo sebab jalur perjalanan selanjutnya penuh dengan penyamun, kemudian dia melanjutkan ke Mekkah melalui Gaza, Yerusalem, Hammah, Aleppo, Damaskus, Syiria. Dia tiba di Mekkah pada Oktober 1326. Pertemuannya dengan para jamaah dari berbagai negeri telah mendorong semangat Ibnu Batuta untuk mengenal langsung negeri-negeri asal jamaah haji.

Ibnu Batuta mulai menyebrangi gurun pasir Arabia menuju Irak dan Iran, kembali ke Damaskus dan melanjutkannya ke Mosul, India. Dia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya dan menetap di kota suci selama tiga tahun (1328-1330). Setelah puas menetap di Mekkah, Ibnu Batuta melanjutkan pengembaraannya ke Aden dan berlayar ke Somalia, pantai-pantai Afrika Timur, termasuk Zelia dan Mambasa. Ibnu Batuta kembali ke Aden, lalu ke Oman, Hormuz dari Teluk Persia dan Pulau Dahrain. Mampir sebentar ke Mekkah pada 1332, Ibnu Batuta menyeberangi Laut Merah, menyusuri Nubia, Nil Hulu, Kairo, Syiria, dan tiba di Lhadhiqiya kemudian menggunakan sebuah kapal Genoa, berlayar ke Ayala di pantai selatan Asia Kecil. Usai melakukan perjalanan laut, pada tahun 1333 Ibnu Batuta melanjutkan pengembaraannya lewat darat. Dia menjelajahi stepa-stepa di Rusia Selatan sampai ke istana Sultan Muhammad Uzbeg Khan yang ada di tepi sungai Wolga. Perjalanannya diteruskan hingga ke Siberia. Ibnu Batuta berniat untuk menuju Kutub Utara, namun kemudian dia batalkan karena cuaca dingin di daerah Tanah Gelap, sebutan wilayah yang tak pernah ada sinar matahari.

Ibnu Batuta mendapatkan perlakuan baik dari kaisar saat sedang mengunjungi Kaisar Byzantum, Audronicas III. Dia mendapat hadiah kuda, pelana dan payung. Perjalanannya dia lanjutkan menuju Persia Utara hingga Afganistan dan beristirahat di Kabul. Saat mencapai India dia bertemu dengan Sultan Delhi, Muhammad bin Tuqluq. Di kesultanan ini Ibnu Batuta diangkat menjadi hakim dan tinggal di negeri ini selama delapan tahun. Atas perintah sultan, Ibnu Batuta menjadi duta besar kepada Kekaisaran Cina.

Dalam perjalanannya menuju Cina Ibnu Batuta melalui laut, dia sempat mampir ke beberapa negeri termasuk Kesultanan Samudra Pasai di Sumatera. Kedatangannya disambut Panglima Amir Daulas, Kadi Syarif Amir Sayyir-asy-Syirazi, Tahajuddin al-Ashabani dan beberapa ahli fiqih atas perintah Sultan Mahmud Malik Zahir (1326-1345). Menurut Ibnu Batuta, Sultan Mahmud merupakan penganut mahzab Syafii yang giat menyelenggarakan pengajian, pembahasan dan muzakarah tentang berbagai hukum Islam. Selama 15 hari, Ibnu Batuta mengunjungi Samudra Pasai sebelum melanjutkan perjalanan ke Cina. Dia sempat mengunjungi pedalaman Sumatera yang masih dihuni masyarakat non-muslim. Setelah sekembalinya dari Cina Ibnu Batuta sempat singgah ke Samudra Pasai kembali.

Saat berkunjung ke Kaisar Cina, Ibnu Batuta kagum atas kekuatan armada besar yang dibangun oleh kekaisaran tersebut. Kembalidari Cina, Ibnu Batuta mengunjungi India, Oman, Persia, Irak dan Damaskus. Ibnu Batuta kembali ke Mekkah untuk menunaikan haji yang keempat kalinya pada 1348 M. Sekembalinya dai haji, dia menyusuri Yerusalem, Gaza, Kairo, dan Tunis. Dari Tunis, dengan menunggang perahu menuju Maroko lewat Dardinia dan tiba di Fez, ibukota Maroko pada 8 November 1349 M. Sejak itu, Ibnu Batuta hingga akhir hayatnya pada 1377 M. Praktis hingga ajal menjemput Ibnu Batuta berkelana dan mengunjungi berbagai negeri, baik Islam maupun non-Islam selama 24 tahun.
Related Posts
Fathesshop
"Kegagalan Adalah Hal Yang Biasa"
SHARE
Subscribe to get free updates

Posting Komentar