input license here

Mulailah dari Diri Sendiri (Ibda’ Binafsika)

Mulailah dari Diri Sendiri (Ibda’ Binafsika)

Setiap kita adalah pendakwah karena kita telah dipesan agar menyampaikan kebaikan walaupun sedikit (satu ayat saja)—sesuai kemampuan kita. Dalam menyeru ke arah kebaikan, sebuah kaidah dakwah telah ditetapkan, yaitu :Mulailah dari dirimu sendiri.

Bagaimana mungkin kita meminta orang lain bersikap santun sementara kita sendiri tidak menerapkannya? Bagaimana bisa kita mengharap orang lain menghargai pendapat kita apabila kita tak terlebih dahulu menunjukkan sikap menghargai pendapatnya? Bukankah selain mau‘izhah hasanah (nasihat baik) juga diperlukan uswah hasanah (contoh perbuatan baik)?

Inti cerita berikut ini tetap sama dengan yang saya dapatkan dari Artikel lain, meskipun saya menyajikannya dengan cara berbeda. Hal ini untuk memberikan kesan kuat dalam diri kita sehingga bisa kita ambil pelajaran dan hikmah darinya. Mari kita baca cerita ini perlahan-lahan serta melarutkan diri di dalamnya.

Di sebuah desa ada seorang ustadz yang ditugaskan untuk berdakwah selama beberapa bulan. Ketika masa akhir tugas sang ustadz, kepala desa mengumpulkan semua penduduk. Beliau berkata,

“Bapak/Ibu sekalian… Esok malam kita akan mengadakan malam perpisahan dengan Pak Ustadz di balai desa… Karena desa kita penghasil madu, maka saya berharap masing-masing keluarga membawa satu botol madu terbaik yang dimiliki sebagai kenang-kenangan bagi ustadz kita.”

Selesai pengumuman, para penduduk pun berpencar pulang ke rumah masing-masing. Di sebuah ruang keluarga nan sederhana, sepasang suami-istri sedang bercengkrama membahas madu yang akan dipilih.

“Bu, menurut Bapak tidak perlulah kita berikan madu terbaik kita... Cukup madu biasa-biasa saja,” kata sang bapak memulai pembicaraan sambil sesekali menyeruput kopi panas di sampingnya.

“Tapi, Pak… Bukankah Pak Kepala Desa sudah berpesan agar madu terbaik yang kita kasihkan? Bukankah Ustadz Zaid juga telah mengabdikan diri sepenuh hati?” tanya si ibu sambil melanjutkan sulamannya.

“Iya, Bapak tahu… Tapi, madu terbaik itu kan bisa dijual dengan harga lebih tinggi. Toh, nanti para penduduk lain akan memberikan madu terbaik mereka. Kalau kita memberi madu biasa, tidak akan banyak efeknya, karena hanya madu kita yang biasa, sedangkan madu-madu lain adalah madu terbaik.”

Suasana berubah hening. Sang ibu teringat jasa-jasa baik Ustadz Zaid. Tiap sore, anak-anak desa diajar membaca Al-Qur’an dengan metode ala sang ustadz sendiri. Kalau menggunakan metode yang biasa diterapkan di TPQ—Qira’ati, Iqra’, al-Barqi, at-Tartil, al-Bayan atau yang lain—jelas membutuhkan biaya karena harus sesuai kurikulum. Namun, dengan semangat penuh pengabdian, sang ustadz meramu sendiri teknik pembelajaran yang digunakan.

Tergambar pula dalam bayangannya, sang ustadz mengisi pengajian ibu-ibu tiap minggu pagi. Tanya-jawab tentang berbagai masalah ibadah senantiasa dijawab. Bila belum bisa, sang ustadz tak pernah patah arang. Segala upaya dilakukan, misal membaca buku atau kitab untuk menjawab kasus yang belum terpecahkan. Bahkan, terkadang sang ustadz kembali ke kota untuk berdiskusi dengan teman-teman beliau, demi menjawab permasalahan yang diutarakan.

Pengajian bapak-bapak pun diadakan setiap Jum’at malam. Ustadz Zaid juga dengan sabar membimbing dan mengajari bapak-bapak yang masih belum lancar membaca Al-Qur’an. Maklumlah, karena himpitan ekonomi, sebagian kepala keluarga kurang dalam mempelajari agama.

Tak tega, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati perempuan paruh baya itu. Ia tak kuasa 'tuk menyetujui usul suaminya. Ia tak tega kepada sang ustadz yang telah berjasa walaupun hanya beberapa bulan.

Namun, ia juga menyadari kondisi ekonomi keluarga, yang mau tidak mau membuat suaminya seperti orang pelit. Beberapa kali ia coba membujuk suaminya agar memberi sebotol madu terbaik mereka, namun argumentasi-argumentasi pendamping hidupnya masuk akal semua.

Hening, keadaan itu menghampiri mereka lagi. Selang beberapa saat kemudian, dengan suara pelan ia pun menjawab,

“Kalau menurut Bapak itu yang terbaik, ibu setuju saja... Semoga saja penduduk lain ada yang membawa lebih dari satu botol madu terbaik mereka.”

Mentari telah beristirahat di peraduannya. Malam yang ditunggu-tunggu telah tiba. Cahaya rembulan memancar begitu teduh, terlihat laksana sebuah senyum bidadari yang menyejukkan jiwa dan meneduhkan diri. Angin berhembus semilir menambah syahdu suasana.

Balai desa tak kalah cantik. Hiasan indah telah disiapkan oleh pemuda-pemudi anggota karang taruna. Sebuah background bertuliskan kata-kata perpisahan digunting dan ditata begitu rapi dalam berbagai model huruf. Jajan pasar dan aneka gorengan lengkap dengan sambal petis serta cabe hijau tak lupa disajikan, sungguh menggoda selera setiap orang ’tuk mencicipinya. Benar-benar Mak Nyusss!!!

Sound system telah dicek berulang kali semenjak sore. Dengan suara bas, sang operator mengecek untuk terakhir kali,

“Jek, jek, jek... satu... satu...satu-dua-tiga...suara dicoba…”

Entah mengapa hitungan untuk mengetes sound system hanya segitu saja sejak zaman antah berantah. Mengapa tak ada yang memulai hitungan dari angka seribu, sejuta dan selainnya? Mengapa pula bukan “mikrofon dicoba”, tapi “suara dicoba”? Entahlah, mungkin memang konvensi itu sudah dari sono-nya. Tak ada guna dipermasalahkan, yang penting semuanya berjalan sesuai harapan.

Semua penduduk hadir di balai desa guna melepas sang ustadz yang telah membimbing mereka selama beberapa bulan terakhir. Namun, sesuatu yang kontradiktif terjadi. Madu mereka berbuah masalah. Apa yang terjadi dengan madu yang mereka kumpulkan?

Ternyata, semua penduduk membawa madu berkualitas sama, seolah sudah berembug di alam mimpi. Seakan sudah mufakat, mereka membawa madu biasa, bukan madu terbaik sebagaimana saran kepala desa. Tak ada seorang penduduk pun membawa madu terbaik produksi desa itu.

Menyaksikan perilaku warga yang tak hendak memberikan madu terbaik bagi sang ustadz, guratan kesedihan tampak jelas di wajah sang kepala desa. Air mata nan bening merayap lambat menuruni hamparan pipi yang mulai keriput dimakan usia. Beliau membenamkan muka ke arah kedua telapak tangan yang masih terlihat kuat dan kokoh. Itu semua beliau lakukan untuk menahan malu. Beliau juga merasa gagal memimpin dan mengarahkan warga.

Penduduk saling berpandangan, seolah tak percaya apa yang sedang terjadi. Sungguh, mereka tak mengira sama sekali peristiwa itu bakal mereka alami. Sontak kedua pipi mereka merona merah karena rasa malu menyerang dengan begitu sengit.

Tanpa ada yang mengomando, para hadirin membubarkan diri. Panitia kalang kabut melihat apa yang mereka tonton. Pembawa acara (MC) segera meraih mikrofon,

“Bapak/Ibu sekalian, mohon tetap menempati kursi yang telah disediakan... Acara segera kita mulai...”

Bagi penduduk, suara MC ibarat igauan orang yang lagi asyik tidur, tak ada yang menggubris. Semakin jauh, suara itu pun hilang ditelan angin. Ke manakah gerangan para penduduk desa itu?

Ternyata mereka pulang ke rumah masing-masing. Tanpa diperintah oleh siapa pun, akhirnya mereka mengambil botol-botol madu terbaik yang dimiliki. Ada yang cuma sebotol, namun tak sedikit pula yang membawa beberapa botol sebagai oleh-oleh bagi sang ustadz.

Ketika semua penduduk sampai di halaman balai desa sambil menenteng botol-botol madu terbaik mereka, senyum indah menghiasi wajah kepala desa. Lagi-lagi, air mata mengalir membasahi pipi beliau. Namun, kali ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata bahagia. Hati beliau benar-benar terharu-biru melihat ketulusan warga.

Saat memberikan sambutan, beliau menuturkan, “Bapak/Ibu/Saudara/i-ku sekalian... Kalau setiap kita memulai kebaikan dari diri sendiri, tidak menunggu apalagi menuntut orang lain terlebih dahulu, niscaya kualitas kehidupan kita akan jauh lebih baik...”
Baca Juga
Fathesshop
"Kegagalan Adalah Hal Yang Biasa"
SHARE
Subscribe to get free updates

Posting Komentar