Mendapatkan Syafaat Dengan Amalan Sunnah

Umat Islam sangat memerlukan syafaat Nabi Muhammad S.A.W untuk mendapatkan pembelaan akhirat dan satu cara untuk mendapatkan syafaat ini adalah dengan memperbanyak amalan-amalan sunnah.

Selain memperoleh syafaat, mengerjakan amalan sunnah selepas menyempurnakan yang fardhu (wajib) juga satu cara untuk mendapatkan kasih sayang Allah. Kasih sayang Allah diberikan kepada hamba-Nya yang istiqomah melakukan amalan-amalan sunnah sebagai tambahan kepada yang fardhu.

Firman Allah dan tiada mendekati hambaku kepadaku dengan satu pekerjaan yang lebih aku sukai dari mengerjakan apa yang aku fardhukan keatasnya dan senantiasalah hambaku mendekatkan dirinya kepadaku dengan melakukan segala sunnah hingga aku mencintainya. (HR. Bukhari dan Abu Hurairah ra)

Walaupun amalan sunnah sedemikian penting, Allah dengan rahmat-Nya tidak menjadikannya sebagai satu kefardhuan (wajib) supaya mereka yang tidak mampu mengerjakannya tidak pula diazab karena amalan sunnah jika dikerjakan berpahala, jika ditinggalkan tidak berdosa.

Nabi sendiri banyak melakukan amalan sunnah di samping yang wajib karena dalam 24 jam sehari semalam, perkara-perkara yang fardhu hanyalah sedikit. Coba kita tengok rukun Islam.

Syahadat cukup sekali seumur hidup, sholat yang fardhu cuma 5 kali sehari samalam, puasa haya 1 bulan dalan setahun dan haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup.

Jika hanya itu saja kita pertaruhkan untuk mendapat kasih sayang Allah, secara logikanya tentu belum mencukupi. Hubungan kita dengan Allah bukan hanya berdasarkan tanggung jawab tetapi lebih kepada hunbungan kasih sayang. Kalau hanya amalan fardhu maka selesailah tanggung jawab kita, tetapi belum tentu ada hubungan kasih sayang dengan Allah.

Ibarat membina rumah yang fardhunya adalah komponen asas seperti dinding, tiang dan atap. Tetapi coba bayangkan sebuah rumah hanya ada dinding, tiang, dan atap saja. Apakah kita hendak duduk di rumah seperti itu? Jadi orang yang sekedar buat amalan fardhu ibarat sebuah rumah yang ada dinding, tiang dan atap saja. Tidak ada mozaik, pintu, lampu, kursi dan segala hiasan dalaman dan luaran.

Misalnya dalam mendirikan sholat antara takbiratul ihram dan membaca surat al fatihah kita hiasi dengan doa iftitah. Ini hanya dekorasi luarannya saja. Dekorasi dalamnya pula kita rasakan di hati tidak ada yang lebih suci dari Allah. Kita seolah-olah tenggelam dalam memuji dan mensucikan Allah. Yang suci adalah hati kita, kalau tidak dirasakan begitu tidak ada dekorasi dalam "kering".

Beramal perlu ilmu dan hikmah. Bila ada hikmah, seseorang itu tahu kenapa dia perlu sholat, kenapa perlu membina hubungan dengan Allah melalui sholat.

"Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan rukuklah berserta orang-orang yang rukuk." (QS. Al-Baqoroh : 2 )

Komentar