Kesuksesan Yang Tertunda
Dalam memburu kesuksesan, manusia memang dibatasi oleh kehendak Allah SWT. Tidak semua kesungguhan langsung berbuah kesuksesan. Tidak semua pengorbanan langsung diikuti pertolongan. Terkadang kesuksesan itu sengaja ditangguhkan dan diakhirkan oleh Allah karena adanya beberapa hikmah yang sangat berharga, diantaranya adalah sebagai berikut :

•Karena kita masih terlalu lemah untuk memegang amanah, belum matang dan belum sempurna dalam membentuk kepribadian. Belum menggalang semua sumber daya. Belum mengenal sejauh mana ambang batas maksimal potensi dan keahlian yang masih terpendam. Karena bila sukses diberikan kepada orang yang ‘masih mentah’ ini, niscaya tidak akan mampu bertahan. Ia tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankan kesuksesannya lebih lama lagi.

•Agar kita mengerahkan akhir dari kekuatan yang ada cadangan devisa yang dimiliki, tidak menyisakan sedikitpun dari sesuatu yang berharga ataupun yang dicintai melainkan semua itu dicurahkan dengan ringannya demi perjuangannya di jalan Allah. Ironisnya, kita ini seringkali hanya berkorban dengan sisa – sisa waktu, sisa – sisa tenaga, sisa – sisa harga dan sisa – sisa lain dari bagian hidup kita. Maka wajar bila sukses tak kunjung tiba. Kalaupun dapat sekedar sisa.

•Untuk menguji coba kekuatan final sehingga memahami bahwa kekuatan itu saja tanpa dukungan dari Allah tidak akan menjamin teraihnya kesuksesan. Sesungguhnya pertolongan Allah tidak akan diturunkan kecuali bila telah mengerahkan akhir dari kekuatan yang disanggupinya kemudian menyerahkan semua itu kepada Allah.

•Agar ummat Islam meningkatkan frekuensi hubungannya dengan Allah. Saat mereka menderita, kesengsaraan dan penindasan serta kehabisan stamina dan kekuatan, sehingga tidak ada lagi tempat bersandar kecuali kepada Allah dan tiada tempat berlindung dalam kepedihan ini kecuali pada Allah semata. Keharmonisan hubungan dan eratnya interaksi dengan Allah menjadi jaminan awal bagi komitmen mereka di atas jalan Allah bila kelak Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Seperti diwajibkan qiyamulail selama dua tahunan bagi para generasi awal perintis dahwah di Makkah. Kekuatan hubungan dengan Allah inilah bekal termahal menuju puncak sukses sesungguhnya. Sehingga ketika makmur tidak takabur dan bila gagal tidak mudah berputus asa.

•Karena kita belum bisa ikhlas secara total dalam perjuangan, mobilitas dan pengorbanan. Kita masih melangkah setengah hati. Melangkah kaki kanan ke Syurga tapi menitipkan kaki kiri ke Neraka. Kita masih terlalu menimbang – nimbang antara kenikmatan dalam taat dan menikmati aneka kue maksiat.

•Karena kita tidak mampu melihat dan memanfaatkan momentum disebabkan sibung dengan hal – hal yang tidak bermanfaat, cenderung cinta dunia dan takut mati, banyak momen sejarah yang terlewatkan. Hidup jadi hambar dan gersang tanpa makna. Ia bukan mengendalikan keadaan tapi keadaan yang mendikte dirinya.

Komentar