Belajar Dan Mengajar Sudah Menjadi Bagian Kehidupan

SETIAP ORANG tentu tidak ingin hidupnya terhina, disisihkan, dipandang sebelah mata bahkan dianggap 'sampah' oleh masyarakat. Kita ingin diakui sebagai sebagai orang berguna yang memiliki kemampuan dan sumbangsih dalam bidang yang berbeda-beda. Tentunya Allah swt. sudah memberikan hal tersebut pada setiap individu. Untuk mencapainya, diri kita mesti dibekali ilmu dengan cara belajar dan karena telah mendalami ilmu, manusia sepantasnya mengajar.

Dengan belajar maupun mengajar, berarti manusia sudah berdakwah dan berniat memposisikan diri sebagai khalifah fi al-ardhi. Suatu ilmu apapun jenisnya yang diperbolehkan agama memang harus dimilki setiap muslim.

Belajar merupakan tugas utama manusia selama menjalani hidup. Belajar tidak mesti melalui lembaga formal, karena alam beserta isinya dapat kita jadikan pelajaran. Orang yang tidak sempat mengenyam pendidikan formal karena keterbatasaan ekonomi dan alasan lainnya, tidak perlu minder dalam pergaulan masyarakat. Sejarah mencatat, puluhan orang bisa berhasil dikenal dunia karena pemikiran dan karyanya, tanpa harus melalui bangku sekolah. Salah satunya pemimpin abadi dunia akhirat, yakni Rasulullah saw.

Belajar tidak mengenal waktu dan tempat. Kehidupan yang berjalan selama dua puluh empat jam sehari semalam merupakan wadah belajar. Dalam bahasa sederhana, beragam kejadian dan berita yang kita lihat, dengar dan rasakan jelas menyisakan tanda tanya. Berawal dari tanda tanya itulah kita berfkir dan akhirnya mendapatkan ilmu. Inilah sesungguhnya makna dan hakekat belajar. Misalnya, ketika burung terbang di awan dengan menggunakan sayapnya, manusia bisa mendapatkan ilmu. Artinya kita dapat belajar dengan menggunakan akal. Lambat laun lahirlah teknologi yang kita kenal dengan pesaat terbang.

Sementara, mengajar bukan hanya tugas rutin para ulama, kyai, ustad, guru, dosen, dan tenaga pendidik. Orang yang memiliki ilmu sedikit, selayaknya menyalurkannya kepada orang yang belum tau. Sebab, ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang tidak berhenti pada satu orang. Selain tu, mengajar merupakan aktivitas yang mulia. Rasulullah besabda :

"barang siapa yang pandai dan mau mengamalkan ilmunya (mengajar), maka orang itu akan dpanggil sebagai orang yang mulia di kalangan penghuni alam malaikat di langit" (Al Hadits)

Siapa pun yang berilmu, beramal dan mengajarkan, berarti ia merupakan orang yang disebut sebagai hamba mulia di kerajaan langit. Ia bagaikan matahari yang menyinari orang lain dan menerangi dirinya sendiri. Ia seperti minyak wangi membuat orang lain menjadi harum dan mengharumkan dirinya sendiri. sebaliknya orang yang berilmu namun enggan mengamalkannya, bagaikan buku yang memberikan manfaat, sedangkan ia sendiri sepi dari ilmu. Layaknya batu asahan yang menajamkan tetapi tidak mampu memotong.

Komentar